Chatting dengan kami :

OOPS. Your Flash player is missing or outdated.Click here to update your player so you can see this content.
Kajian
Sekolah Terpadu = Sekolah Karakter PDF Cetak E-mail
ALHAMDULILLAH pada tanggal 30 september lalu, telah berlangsung acara silaturahim antara lembaga pendidikan dengan forum komunikasi keluarga dan sekolah (FKKS) khususnya SDIT IQRO’, dimana Ust. H. Muhit Muhammad Ishaq menyampaikan taujih dan mengingatkan kembali tentang cita-cita awal pendirian sekolah terpadu IQRO’.

IQRO’, sebagai salah satu pelopor sekolah terpadu di Indonesia, bersama dengan Nurul Fikri (Depok), Al-Hikmah dan Al-Khoirot (Jakarta) mengedepankan konsep pendidikan yang ingin menanamkan nilai-nilai keislaman dan keunggulan para peserta didiknya dengan mempunyai karakter yang menjadi outcome dari konsep pendidikan sekolah terpadu.
Sejak awal berdirinya sekolah terpadu diawal tahun sembilan puluhan, hingga saat ini telah mengalami banyak pengayaan dalam konsep, metode dan strategi pembelajarannya namun tetap berpegang teguh pada muashofat atau profil lulusan sekolah terpadu sebagai inti dari pendidikan terpadu itu sendiri. Student profile, atau profile anak didik didalam lembaga pendidikan Yayasan IQRO’ adalah para buah hati yang kami harapkan dan kami bimbing untuk memiliki karakter sebagai berikut:
1.Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih),  2.Shohihul Ibadah (Ibadah yang benar),  3.Mati’nul Khuluq (Berakhlaq yang kokoh),  4.Qowiyul Jismi (Berbadan sehat/kuat), 5.Mutsaqoful Fikr (Pemikiran yang berwawasan),  6.Qodirun ala Kasbi  (Mampu berusaha/Mandiri),  7.Munazam fi Su’uni (Rapih dalam segala urusan), 8.Haritsun ala Waqtihi (Disiplin dalam waktu),  9.Mujahidun Linafsih (Bersemangat tinggi) 10. Naafi’un Lighoirihi (Berkontribusi)
Sekolah terpadu IQRO’ adalah salah satu bentuk nyata buah fikir dari para pendiri Yayasan IQRO’ yang ingin berada didepan dalam menjawab tantangan zaman dengan seribu macam persoalan dalam dunia pendidikan kita, yaitu anak-anak yang mempunyai karakter yang kuat seperti diatas.
Secara ringkas apa yang disampaikan oleh Ust Muhit dalam upaya pembentukan karakter anak-anak sekolah terpadu adalah: 
 
1. Menumbuhkan rasa cinta kebaikan; anak-anak yang melakukan kesalahan bukan dengan cara diberikan hukuman tetapi bagimana kita menunjukan apa yang baiknya dilakukan sebagaimana saat seorang sahabat Rosul bercanda dalam shalat, kawannya memarahi tapi Rosul menjelaskan bahwa shalat itu adalah komunikasi antara hamba dengan Allah dengan cara yang baik sehingga sahabat tersebut mengatakan bahwa tidak ada guru yang sebaik beliau dalam menanamkan rasa cinta akan kebaikan. 
 
2. Menumbuhkan keteladan akhlaq; guru berperan aktif dalam memberikan keteladan baik akhlaq maupun sikap untuk dicontoh oleh muridnya sehingga dikatakan guru adalah al-qudwah fii tarbiyyah. 
 
3. Menumbuhkan adab-adab islam; banyak sekali adab dalam Islam yang hendaknya ditumbuhkan pada diri anak, semisalnya adalah makan, dimulai dan diakhiri dengan doa, menggunakan tangan kanan, membiasakan untuk makan bersama menjadi satu rangkaian yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan, dan banyak lagi adab lain yang secara sederhana terapilikasikan untuk menjadi pembiasaan yang positif dalam nilai-nilai pembelajaran disekolah.
 
4. Menumbuhkan cinta ilmu; kecintaan kepada ilmu ditanamkan kepada anak sejak usia dini agar mereka mempunyai wawasan yang luas, ditunjang dengan rangkaian kegiatan seperti kunjungan edukasi dan pengenalan lingkungan serta rihlah dan penyediaan buku-buku menjadi sumber akan keilmuan bagi anak-anak kita. 
 
5. Menumbuhkan perhatian terhadap pertumbuhan fisiknya; olah raga dan kesehatan menjadi perhatian dalam pendidikan kita, sebagaimana hadits Nabi: “muslim yang kuat lebih dicintai dari pada yang lemah”, pendekatan pengajaran kepada anak untuk mengenal dan memperhatikan pertumbuhan fisiknya dan ditunjang dengan kegiatan olah raga yang mendukung menjadi bagian pendidikan yang tidak terpisahkan.
 
Semoga kami dapat terus melakukan evaluasi dan pengayaan dalam mengimplementasikan muwashofat di lembaga pendidikan IQRO’. 

 
Pelajaran Penting dari Nabi Ibrahim & Nabi Ismail alahimassalam untuk Dunia Pendidikan PDF Cetak E-mail
Seorang guru hendaknya terus belajar bagaimana menghadapi setiap kasus yang terjadi dalam kehidupan ini dan memahaminya sebagai ujian perjalanan hidup yang mendewasakan. Dan hendaknya setiap muslim menyadari bahwa kualitas ujian itu sebanding lurus dengan kualitas keimanan.

Seorang muslim tentu tidak kekurangan contoh yang dapat diteladani dalam mensikapi ujian keimanannya dalam hidup ini. Kita bisa belajar dari sikap Rasulullah SAW saat mendengar kematian anaknya yang bernama Ibrahim dan bagaimana beliau menunjukkan kesabarannya pada hantaman pertama. 
Dan kita juga menemukan keteladanan sikap ketaatan dan kesabaran yang luar biasa dari Nabi Ibrahim AS dalam menghadapi dahsyatnya ujian keimanan, yaitu saat beliau diuji oleh Allah SWT melalui mimpi agar menyembelih anaknya yang bernama Ismail AS dan beliau mampu menunjukkan kesuksesan yang luar biasa, yang sekaligus menjadi bukti konkrit yang tak terbantahkan bahwa kecintaannya kepada Allah SWT dan ketundukannya kepada perintah jauh lebih besar dari pada rasa kasih sayangnya kepada sang anak. 
Di antara rangkaian ayat yang menggambarkan peristiwa unik di atas adalah di bawah ini; Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash Shoffat : 99 – 107). 
Dari kisah yang diabadikan Allah dalam Al Qur’an di atas, ada beberapa pelajaran berharga dan inspiratif untuk dunia pendidikan Islam, termasuk untuk para orang tua, di antaranya; 
1. Seorang ayah harus meyakini bahwa hidup dan matinya adalah hanya dipersembahkan untuk Allah SWT. 
2. Hendaknya setiap manusia mengetahui bahwa adakalanya ujian itu merupakan rahmat Allah di dunia, dan jika dibarengi dengan kesabaran dan harapan pahala, maka ujian itu adalah rahmat Allah di akhirat kelak.  
3. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. 
4. Bahwa pendidikan anak atas cinta dan ketaatan akan terlihat hasilnya pada saat ujian menghadang. 
5. Hendaknya orang tua tidak menentukan keputusan terhadap anak-anaknya sebelum meminta ijin kepada mereka.  
6. Hendaknya orang tua menggunakan bahasa yang menunjukkan adanya kasih sayang kepada anak, seperti; wahai ananda, sayang, sekali pun sedang ada permusuhan, apakah ditemukan permusuhan orang tua terhadap anak yang melebihi keinginan menyembelihnya. 
7. Sesungguhnya pendidikan yang baik pasti akan menampakkan hasil yang baik pula. 
8. Sudah seharusnya anak berbicara dengan orang tuanya dengan sopan, menghormati pendapatnya, dan memberikan respon dengan susuan kalimat yang santun dan memahaminya sebagai bukti keimanan tertinggi. 
9. Sesungguhnya bahasa yang digunakan orang tua dalam berbicara dengan anaknya akan digunakan sang anak saat berbicara kepada orang tuanya.
10. Janganlah memberi ruang kesempatan kepada nafsu dan syaithan di tengah-tengah dialog kita dengan sang anak. 
11. Berhati-hatilah terhadap munculnya rasa dendam terhadap sang anak, dan berusahalan merealisasikan hal-hal yang memberi manfaat dalam kehidupan sang anak ke depan, walau pun bisa jadi sang anak belum puas/ menyadarinya. 
12. Setiap muslim harus meyakini bahwa Allah SWT tidak pernah berkeinginan buruk kepada kita, dan segala perintah-Nya menunjukkan rahmat dan pengampunan-Nya. -mu’in

 
Pelajaran Penting dari Nabi Ibrahim & Nabi Ismail alahimassalam untuk Dunia Pendidikan PDF Cetak E-mail
Seorang guru hendaknya terus belajar bagaimana menghadapi setiap kasus yang terjadi dalam kehidupan ini dan memahaminya sebagai ujian perjalanan hidup yang mendewasakan. Dan hendaknya setiap muslim menyadari bahwa kualitas ujian itu sebanding lurus dengan kualitas keimanan.

Seorang muslim tentu tidak kekurangan contoh yang dapat diteladani dalam mensikapi ujian keimanannya dalam hidup ini. Kita bisa belajar dari sikap Rasulullah SAW saat mendengar kematian anaknya yang bernama Ibrahim dan bagaimana beliau menunjukkan kesabarannya pada hantaman pertama. 
Dan kita juga menemukan keteladanan sikap ketaatan dan kesabaran yang luar biasa dari Nabi Ibrahim AS dalam menghadapi dahsyatnya ujian keimanan, yaitu saat beliau diuji oleh Allah SWT melalui mimpi agar menyembelih anaknya yang bernama Ismail AS dan beliau mampu menunjukkan kesuksesan yang luar biasa, yang sekaligus menjadi bukti konkrit yang tak terbantahkan bahwa kecintaannya kepada Allah SWT dan ketundukannya kepada perintah jauh lebih besar dari pada rasa kasih sayangnya kepada sang anak. 
Di antara rangkaian ayat yang menggambarkan peristiwa unik di atas adalah di bawah ini; Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash Shoffat : 99 – 107). 
Dari kisah yang diabadikan Allah dalam Al Qur’an di atas, ada beberapa pelajaran berharga dan inspiratif untuk dunia pendidikan Islam, termasuk untuk para orang tua, di antaranya; 
1. Seorang ayah harus meyakini bahwa hidup dan matinya adalah hanya dipersembahkan untuk Allah SWT. 
2. Hendaknya setiap manusia mengetahui bahwa adakalanya ujian itu merupakan rahmat Allah di dunia, dan jika dibarengi dengan kesabaran dan harapan pahala, maka ujian itu adalah rahmat Allah di akhirat kelak.  
3. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. 
4. Bahwa pendidikan anak atas cinta dan ketaatan akan terlihat hasilnya pada saat ujian menghadang. 
5. Hendaknya orang tua tidak menentukan keputusan terhadap anak-anaknya sebelum meminta ijin kepada mereka.  
6. Hendaknya orang tua menggunakan bahasa yang menunjukkan adanya kasih sayang kepada anak, seperti; wahai ananda, sayang, sekali pun sedang ada permusuhan, apakah ditemukan permusuhan orang tua terhadap anak yang melebihi keinginan menyembelihnya. 
7. Sesungguhnya pendidikan yang baik pasti akan menampakkan hasil yang baik pula. 
8. Sudah seharusnya anak berbicara dengan orang tuanya dengan sopan, menghormati pendapatnya, dan memberikan respon dengan susuan kalimat yang santun dan memahaminya sebagai bukti keimanan tertinggi. 
9. Sesungguhnya bahasa yang digunakan orang tua dalam berbicara dengan anaknya akan digunakan sang anak saat berbicara kepada orang tuanya.
10. Janganlah memberi ruang kesempatan kepada nafsu dan syaithan di tengah-tengah dialog kita dengan sang anak. 
11. Berhati-hatilah terhadap munculnya rasa dendam terhadap sang anak, dan berusahalan merealisasikan hal-hal yang memberi manfaat dalam kehidupan sang anak ke depan, walau pun bisa jadi sang anak belum puas/ menyadarinya. 
12. Setiap muslim harus meyakini bahwa Allah SWT tidak pernah berkeinginan buruk kepada kita, dan segala perintah-Nya menunjukkan rahmat dan pengampunan-Nya. -mu’in

 
Cahaya di Wajah Umat PDF Cetak E-mail

Dalam satu kesatuan amal jama’i ada orang yang mendapatkan nilai tinggi karena ia betul-betul sesuai dengan tuntutan dan adab amal jama’i. Kejujuran, kesuburan, kejernihan dan kehangatan ukhuwahnya betul-betul terasa. Keberadaannya menggairahkan dan menenteramkan. Namun perlu diingat, walaupun telah bekerja dalam jaringan amal jama’i, namun pertanggungjawaban amal kita akan dilakukan di hadapan Allah SWT secara sendiri-sendiri.

 Karenanya jangan ada kader yang mengandalkan kumpulan-kumpulan besar tanpa berusaha meningkatkan kualitas dirinya. Ingat suatu pesan Rasulullah SAW: Man abtha-a bihi amaluhu lam yusri’ bihi nasabuhu (Siapa yang lamban beramal tidak akan dipercepat oleh nasabnya).

 Makna tarbiah itu sendiri adalah mengharuskan seseorang lebih berdaya, bukan terus-menerus menempel dan tergantung pada orang lain. Meskipun kebersamaan itu merupakan sesuatu yang baik tapi ada saatnya kita tidak dapat bersama, demikian sunahnya. Sebab kalau mau, para sahabat Rasulullah SAW bisa saja menetap dan wafat di Madinah, atau terus menerus tinggal ber-mulazamah tinggal di masjidil Haram yang nilainya sekian ratus ribu atau di Masjid Nabawi yang pahalanya sekian ribu kali. Tapi mengapa makam para Sahabat tidak banyak berada di Baqi atau di Ma’la. Tetapi makam mereka banyak bertebaran jauh, beribu-ribu mil dari negeri mereka.

 Sesungguhnya mereka mengutamakan adanya makna diri mereka sebagai perwujudan firman-Nya: Wal takum minkum ummatuy yad’una ilal khoir. Atau dalam firman-Nya: Kuntum khoiro ummati ukhrijat linnasi (Kamu adalah sebaik-baiknya ummat yang di-tampilkan untuk ummat manusia. Qs. 3;110). Ummat yang terbaik bukan untuk disem-bunyikan tapi untuk ditampilkan kepada seluruh ummat manusia. Inilah sesuatu yang sangat perlu kita jaga dan perhatikan. Kita semua beramal tapi tidak larut dalam kesendirian. Hendaklah ketika sendiri kita selalu mendapat cahaya dan menjadi cahaya yang menyinari lingkungan sekitarnya.

 Jangan ada lagi kader yang mengatakan, saya jadi buruk begini karena lingkungan. Mengapa tidak berkata sebaliknya, karena lingkungan seperti itu, saya harus mempengaruhi lingkungan itu dengan pengaruh yang ada pada diri saya. Seharusnya dimanapun dia berada ia harus berusaha membuat kawasan-kawasan kebaikan, kawasan cahaya, kawasan ilmu, kawasan akhlak, kawasan taqwa, kawasan al-haq, setelah kawasan-kawasan tadi menjadi sempit dan gelap oleh kawasan-kawasan jahiliyah, kezaliman, kebodohan dan hawa nafsu. Demikianlah ciri kader PK, dimanapun dia berada terus menerus memberi makna kehidupan. Seperti sejarah da’wah ini, tumbuh dari seorang, dua orang kemudian menjadi beribu-ribu atau berjuta-juta orang.

 Sangat indah ungkapan Imam Syahid Hasan Al Banna, "Antum ruhun jadidah tarsi fi ja-sadil ummah". Kamu adalah ruh baru, kamu adalah jiwa baru yang mengalir di tubuh ummat, yang menghidupkan tubuh yang mati itu dengan Al-Qur’an.

 Jangan ada sesudah ini, kader yang hanya mengandalkan kerumunan besar untuk merasakan eksistensi dirinya. Tapi, dimanapun dia berada ia tetap merasakan sebagai hamba Allah SWT, ia harus memiliki kesadaran untuk menjaga dirinya dan taqwanya kepada Allah SWT, baik dalam keadaan sendiri maupun dalam keadaan terlihat orang. Kemanapun pergi, ia tak merasa kesunyian, tersudut atau terasing, karena Allah senantiasa bersamanya. Bahkan ia dapatkan kebersamaan rasul-Nya, ummat dan alam semesta senantiasa.

 Kehebatan Namrud bagi Nabi Ibrahim AS tidak ada artinya, tidaklah sendirian. ALLAH bersamanya dan alam semesta selalu bersamanya. Api yang berkobar-kobar yang dinyalakan Namrud untuk membinasakan dirinya, ternyata satu korps dengannya dalam menu-naikan tugas pengabdian kepada ALLAH. Alih-alih dari menghanguskannya, justeru malah menjadi "bardan wa salaman" (penyejuk dan penyelamat). Karena itu, kader sejati yakin bahwa Allah SWT akan senantiasa membuka jalan bagi pejuang Da’wah sesuai dengan janji-Nya, In tansurullah yansurukum wayu sabit akdamakum (Jika kamu menolong Allah, Ia pasti akan menolongmu dan mengokohkan langkah kamu)

 Semoga para kader senantiasa mendapatkan perlindungan dan bimbingan dari Allah SWT ditengah derasnya arus dan badai perusakan ummat. Kita harus yakin sepenuhnya akan pertolongan Allah SWT dan bukan yakin dan percaya pada diri sendiri. Masukkan diri kedalam benteng-benteng kekuatan usrah atau halaqah tempat Junud Da’wah melingkar dalam suatu benteng perlindungan, menghimpun bekal dan amunisi untuk terjun ke arena pertarungan Haq dan bathil yang berat dan menuntut pengorbanan.

 Disanalah kita mentarbiah diri sendiri dan generasi mendatang. Inilah sebagian pelipur kesedihan ummat yang berkepanjangan, dengan munculnya generasi baru. Generasi yang siap memikul beban da’wah dan menegakan Islam. Inilah harapan baru bagi masa depan yang lebih gemilang, dibawah naungan Alqur-an dan cahaya Islam rahmatan lil alamin.

 
Biawak pun Bersaksi atas Kerasulan Muhammad PDF Cetak E-mail

SESEORANG dari bani Sulaim menangkap seekor biawak & menaruhnya di kantong. Saat ia melihat sekelompok orang, ia pun bertanya; “Ada apa ini?” mereka menjawab; “Inilah orang yang disebut-sebut sebagai nabi.” Setelah mendekat, ia berkata; “Demi Lata dan Uzza, tak ada perempuan yang mengandung orang yang punya omongan yang lebih kubenci daripada kau. Seandainya kaumku tidak menyebutku sebagai “tukang buru-buru” pasti aku segera menyiksa dan membunuhmu, sehingga aku bisa membuat senang orang kulit hitam, merah, putih, dan lain-lain karena membunuhmu.”


Seketika itu, Umar Ibn Khotthob RA berkata; “Wahai Rasulullah, biarkan aku membunuhnya.” Beliau bersabda; “Wahai Umar, tidakkah kau tahu bahwa orang yang lemah lembut itu nyaris menjadi nabi?”.
Beliau pun maju ke hadapan orang badui itu & berkata; “Kenapa kamu berkata demikian? Kamu berkata tidak benar & tidak menghormatiku di majlisku. Kamu juga bicara kepadaku dgn merendahkan utusan Allah.” Maka orang badui itu berkata; “Demi Lata dan Uzza, aku tidak beriman kepadamu kecuali bila biawak ini beriman kepadamu.” Lalu ia mengeluarkan biawak dari kantongnya & melemparnya ke hadapan Rasulullah SAW.

Maka Rasulullah berkata; “Hai biawak!” Biawak itu menjawab dgn bahasa yang jelas dan didengar oleh semua orang; “Labbaik wa sa’daik…”
Rasulullah melanjutkan; “Siapa yang kau sembah?” Ia menjawab; “Tuhan yang arasy-Nya di langit, kekuasaan-Nya di bumi, jalan-Nya di laut, Rahmat-Nya di surga, dan hukuman-Nya di neraka.” Rasulullah bertanya lagi; “Lalu siapa aku?” Biawak menjawab; “Utusan Tuhan semesta alam, penutup para nabi. Bahagialah orang yang membenarkanmu & merugilah orang yang mendustakanmu.”
Badui itu pun berkata; “Aku tidak akan mengikuti jejak siapa pun setelah peristiwa ini. Demi Allah, tidak ada orang di muka bumi ini yang kubenci daripada kau. Tapi hari ini kau lebih kucintai daripada kedua orang tuaku, mataku, dan diriku sendiri. Aku benar-benar mencintaimu dgn sisi dalam-ku, sisi luar-ku, rahasia-ku, dan keterangan-keterangan-ku. Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah, dan kau adalah utusan Allah.”

Maka Rasulullah SAW bersabda; “Segala puji bagi Allah yang telah menunjukimu sebab diriku. Sesungguhnya agama ini unggul & tidak bisa diungguli, tidak diterima kecuali dgn shalat, dan shalat tidak diterima kecuali dgn Al Qur’an.” Orang badui itu berkata; “Ajarilah aku!” Lalu Rasulullah mengajarinya surat Al Ikhlash. Lalu orang itu berkata; “Tambahkan padaku. Aku tidak pernah mendengar dalam syair basith atau rajaz, sesuatu yang lebih indah dari ini.”
Maka Rasulullah bersabda; “Hai orang badui, ini adalah Kalam Allah, bukan syair. Apabila kamu membaca; Qul huwallahu ahad…, maka kamu mendapat pahala spt pahala orang yang membaca 1/3 Al Qur’an. Bila kamu membacanya dua kali, maka kamu mendapat pahala spt pahala orang yang membaca 2/3 Al Qur’an. Dan bila kamu membacanya tiga kali, maka kamu mendapat pahala spt pahala orang yang membaca Al Qur’an seluruhnya.”

Badui itu pun berkata; “Sebaik-baik tuhan adalah Tuhan yang menerima sedikit & memberi banyak.” Lalu Rasulullah bertanya; “Kamu punya harta?” Ia menjawab; “Di antara Bani Sulaim tidak ada yang lebih fakir daripada aku.” Maka Rasulullah berkata kepada para shahabat; “Berilah dia!” Lalu mereka memberinya hingga berlebihan.
Lalu Abdurrahman Ibn Auf RA berdiri dan berkata; “Wahai Rasulullah, aku punya seekor unta yang dihadiahkan kepadaku pada hari Tabuk. Aku jadikan untuk taqarrub kpd Allah, dan aku ingin serahkan kpd orang badui itu.”

Maka Rasulullah SAW bersabda; “Kau telah menggambarkan untamu. Apakah aku perlu menggambarkan apa yang kau punya di sisi Allah pada hari kiamat?” Ia menjawab; “Ya.” Rasulullah bersabda; “Kau punya seperti unta dari mutiara yang berkilau, kaki-kakinya dari batu mulia berwarna biru, lehernya terbuat dari batu mulia berwarna kuning, di atasnya ada sekedup, di atas sekedup ada beludru sutra halus dan beludru sutra kasar, ia membawamu di jalan seperti petir menyambar, dan membuat setiap orang di hari kiamat cemburu kepadamu.” Maka Abdurrahman Ibn Auf berkata; “Aku ridha.”

Lalu orang badui itu keluar dan bertemu dengan seribu orang badui dari Bani Sulaim yang menunggang kuda, menghunus pedang & panah. Ia berkata kepada mereka; “Ingin pergi kemana kalian?” Mereka menjawab; “Kami ingin membunuh orang yang membodoh-bodohkan tuhan-tuhan kami.” Lalu ia berkata; “Jangan lakukan. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan Muhammad itu utusan Allah.” Lalu ia menceritakan peristiwa yang dialaminya kepada mereka, dan mereka semua berkata; “Tiada tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan Allah.”
Kemudian mereka masuk dan Rasulullah SAW menyambut mereka. Lalu mereka turun dari kuda tunggangan mereka dan menciumi Nabi sambil berkata; “Tiada tuhan selain Allah, Muhammad Rasulullah.” Kemudian mereka berkata; “Wahai Rasulullah, perintahkan kami!” Rasulullah SAW bersabda; “Beradalah kalian di bawah bendera Khalid Ibn Walid.”  Tidak ada orang arab atau selainnya yang masuk Islam sekaligus seribu orang selain mereka.   -Dalaail Nubuwwah-
     

 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 9 dari 10