|
Seorang guru hendaknya terus belajar bagaimana menghadapi setiap kasus yang terjadi dalam kehidupan ini dan memahaminya sebagai ujian perjalanan hidup yang mendewasakan. Dan hendaknya setiap muslim menyadari bahwa kualitas ujian itu sebanding lurus dengan kualitas keimanan.
Seorang muslim tentu tidak kekurangan contoh yang dapat diteladani dalam mensikapi ujian keimanannya dalam hidup ini. Kita bisa belajar dari sikap Rasulullah SAW saat mendengar kematian anaknya yang bernama Ibrahim dan bagaimana beliau menunjukkan kesabarannya pada hantaman pertama.
Dan kita juga menemukan keteladanan sikap ketaatan dan kesabaran yang luar biasa dari Nabi Ibrahim AS dalam menghadapi dahsyatnya ujian keimanan, yaitu saat beliau diuji oleh Allah SWT melalui mimpi agar menyembelih anaknya yang bernama Ismail AS dan beliau mampu menunjukkan kesuksesan yang luar biasa, yang sekaligus menjadi bukti konkrit yang tak terbantahkan bahwa kecintaannya kepada Allah SWT dan ketundukannya kepada perintah jauh lebih besar dari pada rasa kasih sayangnya kepada sang anak.
Di antara rangkaian ayat yang menggambarkan peristiwa unik di atas adalah di bawah ini; Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash Shoffat : 99 – 107).
Dari kisah yang diabadikan Allah dalam Al Qur’an di atas, ada beberapa pelajaran berharga dan inspiratif untuk dunia pendidikan Islam, termasuk untuk para orang tua, di antaranya;
1. Seorang ayah harus meyakini bahwa hidup dan matinya adalah hanya dipersembahkan untuk Allah SWT.
2. Hendaknya setiap manusia mengetahui bahwa adakalanya ujian itu merupakan rahmat Allah di dunia, dan jika dibarengi dengan kesabaran dan harapan pahala, maka ujian itu adalah rahmat Allah di akhirat kelak.
3. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.
4. Bahwa pendidikan anak atas cinta dan ketaatan akan terlihat hasilnya pada saat ujian menghadang.
5. Hendaknya orang tua tidak menentukan keputusan terhadap anak-anaknya sebelum meminta ijin kepada mereka.
6. Hendaknya orang tua menggunakan bahasa yang menunjukkan adanya kasih sayang kepada anak, seperti; wahai ananda, sayang, sekali pun sedang ada permusuhan, apakah ditemukan permusuhan orang tua terhadap anak yang melebihi keinginan menyembelihnya.
7. Sesungguhnya pendidikan yang baik pasti akan menampakkan hasil yang baik pula.
8. Sudah seharusnya anak berbicara dengan orang tuanya dengan sopan, menghormati pendapatnya, dan memberikan respon dengan susuan kalimat yang santun dan memahaminya sebagai bukti keimanan tertinggi.
9. Sesungguhnya bahasa yang digunakan orang tua dalam berbicara dengan anaknya akan digunakan sang anak saat berbicara kepada orang tuanya.
10. Janganlah memberi ruang kesempatan kepada nafsu dan syaithan di tengah-tengah dialog kita dengan sang anak.
11. Berhati-hatilah terhadap munculnya rasa dendam terhadap sang anak, dan berusahalan merealisasikan hal-hal yang memberi manfaat dalam kehidupan sang anak ke depan, walau pun bisa jadi sang anak belum puas/ menyadarinya.
12. Setiap muslim harus meyakini bahwa Allah SWT tidak pernah berkeinginan buruk kepada kita, dan segala perintah-Nya menunjukkan rahmat dan pengampunan-Nya. -mu’in
|