Chatting dengan kami :

OOPS. Your Flash player is missing or outdated.Click here to update your player so you can see this content.
Kajian
Sekolah Terpadu = Sekolah Karakter PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Imam Saefuddien   
ALHAMDULILLAH pada tanggal 30 september lalu, telah berlangsung acara silaturahim antara lembaga pendidikan dengan forum komunikasi keluarga dan sekolah (FKKS) khususnya SDIT IQRO’, dimana Ust. H. Muhit Muhammad Ishaq menyampaikan taujih dan mengingatkan kembali tentang cita-cita awal pendirian sekolah terpadu IQRO’.

IQRO’, sebagai salah satu pelopor sekolah terpadu di Indonesia, bersama dengan Nurul Fikri (Depok), Al-Hikmah dan Al-Khoirot (Jakarta) mengedepankan konsep pendidikan yang ingin menanamkan nilai-nilai keislaman dan keunggulan para peserta didiknya dengan mempunyai karakter yang menjadi outcome dari konsep pendidikan sekolah terpadu.
Sejak awal berdirinya sekolah terpadu diawal tahun sembilan puluhan, hingga saat ini telah mengalami banyak pengayaan dalam konsep, metode dan strategi pembelajarannya namun tetap berpegang teguh pada muashofat atau profil lulusan sekolah terpadu sebagai inti dari pendidikan terpadu itu sendiri. Student profile, atau profile anak didik didalam lembaga pendidikan Yayasan IQRO’ adalah para buah hati yang kami harapkan dan kami bimbing untuk memiliki karakter sebagai berikut:
1.Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih),  2.Shohihul Ibadah (Ibadah yang benar),  3.Mati’nul Khuluq (Berakhlaq yang kokoh),  4.Qowiyul Jismi (Berbadan sehat/kuat), 5.Mutsaqoful Fikr (Pemikiran yang berwawasan),  6.Qodirun ala Kasbi  (Mampu berusaha/Mandiri),  7.Munazam fi Su’uni (Rapih dalam segala urusan), 8.Haritsun ala Waqtihi (Disiplin dalam waktu),  9.Mujahidun Linafsih (Bersemangat tinggi) 10. Naafi’un Lighoirihi (Berkontribusi)
Sekolah terpadu IQRO’ adalah salah satu bentuk nyata buah fikir dari para pendiri Yayasan IQRO’ yang ingin berada didepan dalam menjawab tantangan zaman dengan seribu macam persoalan dalam dunia pendidikan kita, yaitu anak-anak yang mempunyai karakter yang kuat seperti diatas.
Secara ringkas apa yang disampaikan oleh Ust Muhit dalam upaya pembentukan karakter anak-anak sekolah terpadu adalah: 
 
1. Menumbuhkan rasa cinta kebaikan; anak-anak yang melakukan kesalahan bukan dengan cara diberikan hukuman tetapi bagimana kita menunjukan apa yang baiknya dilakukan sebagaimana saat seorang sahabat Rosul bercanda dalam shalat, kawannya memarahi tapi Rosul menjelaskan bahwa shalat itu adalah komunikasi antara hamba dengan Allah dengan cara yang baik sehingga sahabat tersebut mengatakan bahwa tidak ada guru yang sebaik beliau dalam menanamkan rasa cinta akan kebaikan. 
 
2. Menumbuhkan keteladan akhlaq; guru berperan aktif dalam memberikan keteladan baik akhlaq maupun sikap untuk dicontoh oleh muridnya sehingga dikatakan guru adalah al-qudwah fii tarbiyyah. 
 
3. Menumbuhkan adab-adab islam; banyak sekali adab dalam Islam yang hendaknya ditumbuhkan pada diri anak, semisalnya adalah makan, dimulai dan diakhiri dengan doa, menggunakan tangan kanan, membiasakan untuk makan bersama menjadi satu rangkaian yang tidak terpisahkan dalam proses pendidikan, dan banyak lagi adab lain yang secara sederhana terapilikasikan untuk menjadi pembiasaan yang positif dalam nilai-nilai pembelajaran disekolah.
 
4. Menumbuhkan cinta ilmu; kecintaan kepada ilmu ditanamkan kepada anak sejak usia dini agar mereka mempunyai wawasan yang luas, ditunjang dengan rangkaian kegiatan seperti kunjungan edukasi dan pengenalan lingkungan serta rihlah dan penyediaan buku-buku menjadi sumber akan keilmuan bagi anak-anak kita. 
 
5. Menumbuhkan perhatian terhadap pertumbuhan fisiknya; olah raga dan kesehatan menjadi perhatian dalam pendidikan kita, sebagaimana hadits Nabi: “muslim yang kuat lebih dicintai dari pada yang lemah”, pendekatan pengajaran kepada anak untuk mengenal dan memperhatikan pertumbuhan fisiknya dan ditunjang dengan kegiatan olah raga yang mendukung menjadi bagian pendidikan yang tidak terpisahkan.
 
Semoga kami dapat terus melakukan evaluasi dan pengayaan dalam mengimplementasikan muwashofat di lembaga pendidikan IQRO’. 

 
Pelajaran Penting dari Nabi Ibrahim & Nabi Ismail alahimassalam untuk Dunia Pendidikan PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Imam Saefuddien   
Seorang guru hendaknya terus belajar bagaimana menghadapi setiap kasus yang terjadi dalam kehidupan ini dan memahaminya sebagai ujian perjalanan hidup yang mendewasakan. Dan hendaknya setiap muslim menyadari bahwa kualitas ujian itu sebanding lurus dengan kualitas keimanan.

Seorang muslim tentu tidak kekurangan contoh yang dapat diteladani dalam mensikapi ujian keimanannya dalam hidup ini. Kita bisa belajar dari sikap Rasulullah SAW saat mendengar kematian anaknya yang bernama Ibrahim dan bagaimana beliau menunjukkan kesabarannya pada hantaman pertama. 
Dan kita juga menemukan keteladanan sikap ketaatan dan kesabaran yang luar biasa dari Nabi Ibrahim AS dalam menghadapi dahsyatnya ujian keimanan, yaitu saat beliau diuji oleh Allah SWT melalui mimpi agar menyembelih anaknya yang bernama Ismail AS dan beliau mampu menunjukkan kesuksesan yang luar biasa, yang sekaligus menjadi bukti konkrit yang tak terbantahkan bahwa kecintaannya kepada Allah SWT dan ketundukannya kepada perintah jauh lebih besar dari pada rasa kasih sayangnya kepada sang anak. 
Di antara rangkaian ayat yang menggambarkan peristiwa unik di atas adalah di bawah ini; Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash Shoffat : 99 – 107). 
Dari kisah yang diabadikan Allah dalam Al Qur’an di atas, ada beberapa pelajaran berharga dan inspiratif untuk dunia pendidikan Islam, termasuk untuk para orang tua, di antaranya; 
1. Seorang ayah harus meyakini bahwa hidup dan matinya adalah hanya dipersembahkan untuk Allah SWT. 
2. Hendaknya setiap manusia mengetahui bahwa adakalanya ujian itu merupakan rahmat Allah di dunia, dan jika dibarengi dengan kesabaran dan harapan pahala, maka ujian itu adalah rahmat Allah di akhirat kelak.  
3. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. 
4. Bahwa pendidikan anak atas cinta dan ketaatan akan terlihat hasilnya pada saat ujian menghadang. 
5. Hendaknya orang tua tidak menentukan keputusan terhadap anak-anaknya sebelum meminta ijin kepada mereka.  
6. Hendaknya orang tua menggunakan bahasa yang menunjukkan adanya kasih sayang kepada anak, seperti; wahai ananda, sayang, sekali pun sedang ada permusuhan, apakah ditemukan permusuhan orang tua terhadap anak yang melebihi keinginan menyembelihnya. 
7. Sesungguhnya pendidikan yang baik pasti akan menampakkan hasil yang baik pula. 
8. Sudah seharusnya anak berbicara dengan orang tuanya dengan sopan, menghormati pendapatnya, dan memberikan respon dengan susuan kalimat yang santun dan memahaminya sebagai bukti keimanan tertinggi. 
9. Sesungguhnya bahasa yang digunakan orang tua dalam berbicara dengan anaknya akan digunakan sang anak saat berbicara kepada orang tuanya.
10. Janganlah memberi ruang kesempatan kepada nafsu dan syaithan di tengah-tengah dialog kita dengan sang anak. 
11. Berhati-hatilah terhadap munculnya rasa dendam terhadap sang anak, dan berusahalan merealisasikan hal-hal yang memberi manfaat dalam kehidupan sang anak ke depan, walau pun bisa jadi sang anak belum puas/ menyadarinya. 
12. Setiap muslim harus meyakini bahwa Allah SWT tidak pernah berkeinginan buruk kepada kita, dan segala perintah-Nya menunjukkan rahmat dan pengampunan-Nya. -mu’in

 
Pelajaran Penting dari Nabi Ibrahim & Nabi Ismail alahimassalam untuk Dunia Pendidikan PDF Cetak E-mail
Ditulis Oleh Imam Saefuddien   
Seorang guru hendaknya terus belajar bagaimana menghadapi setiap kasus yang terjadi dalam kehidupan ini dan memahaminya sebagai ujian perjalanan hidup yang mendewasakan. Dan hendaknya setiap muslim menyadari bahwa kualitas ujian itu sebanding lurus dengan kualitas keimanan.

Seorang muslim tentu tidak kekurangan contoh yang dapat diteladani dalam mensikapi ujian keimanannya dalam hidup ini. Kita bisa belajar dari sikap Rasulullah SAW saat mendengar kematian anaknya yang bernama Ibrahim dan bagaimana beliau menunjukkan kesabarannya pada hantaman pertama. 
Dan kita juga menemukan keteladanan sikap ketaatan dan kesabaran yang luar biasa dari Nabi Ibrahim AS dalam menghadapi dahsyatnya ujian keimanan, yaitu saat beliau diuji oleh Allah SWT melalui mimpi agar menyembelih anaknya yang bernama Ismail AS dan beliau mampu menunjukkan kesuksesan yang luar biasa, yang sekaligus menjadi bukti konkrit yang tak terbantahkan bahwa kecintaannya kepada Allah SWT dan ketundukannya kepada perintah jauh lebih besar dari pada rasa kasih sayangnya kepada sang anak. 
Di antara rangkaian ayat yang menggambarkan peristiwa unik di atas adalah di bawah ini; Dan Ibrahim berkata: “Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shaleh. Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash Shoffat : 99 – 107). 
Dari kisah yang diabadikan Allah dalam Al Qur’an di atas, ada beberapa pelajaran berharga dan inspiratif untuk dunia pendidikan Islam, termasuk untuk para orang tua, di antaranya; 
1. Seorang ayah harus meyakini bahwa hidup dan matinya adalah hanya dipersembahkan untuk Allah SWT. 
2. Hendaknya setiap manusia mengetahui bahwa adakalanya ujian itu merupakan rahmat Allah di dunia, dan jika dibarengi dengan kesabaran dan harapan pahala, maka ujian itu adalah rahmat Allah di akhirat kelak.  
3. Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan. 
4. Bahwa pendidikan anak atas cinta dan ketaatan akan terlihat hasilnya pada saat ujian menghadang. 
5. Hendaknya orang tua tidak menentukan keputusan terhadap anak-anaknya sebelum meminta ijin kepada mereka.  
6. Hendaknya orang tua menggunakan bahasa yang menunjukkan adanya kasih sayang kepada anak, seperti; wahai ananda, sayang, sekali pun sedang ada permusuhan, apakah ditemukan permusuhan orang tua terhadap anak yang melebihi keinginan menyembelihnya. 
7. Sesungguhnya pendidikan yang baik pasti akan menampakkan hasil yang baik pula. 
8. Sudah seharusnya anak berbicara dengan orang tuanya dengan sopan, menghormati pendapatnya, dan memberikan respon dengan susuan kalimat yang santun dan memahaminya sebagai bukti keimanan tertinggi. 
9. Sesungguhnya bahasa yang digunakan orang tua dalam berbicara dengan anaknya akan digunakan sang anak saat berbicara kepada orang tuanya.
10. Janganlah memberi ruang kesempatan kepada nafsu dan syaithan di tengah-tengah dialog kita dengan sang anak. 
11. Berhati-hatilah terhadap munculnya rasa dendam terhadap sang anak, dan berusahalan merealisasikan hal-hal yang memberi manfaat dalam kehidupan sang anak ke depan, walau pun bisa jadi sang anak belum puas/ menyadarinya. 
12. Setiap muslim harus meyakini bahwa Allah SWT tidak pernah berkeinginan buruk kepada kita, dan segala perintah-Nya menunjukkan rahmat dan pengampunan-Nya. -mu’in

 
<< Awal < Sebelumnya 1 2 Berikutnya > Akhir >>

Hasil 1 - 7 dari 10