|
"Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar."(QS. Al-Ahzab 70)
Ya, sekarang tak ada waktu lagi untuk berbasa-basi. Perang di segala bidang telah mencengkeram, merambah dan melumpuhkan seluruh jaringan saraf ummat. "Mereka akan terus selalu memerangi kamu sampai berhasil mengembalikan kamu dari agamamu, bila mereka mampu melakukannya... " (QS. Al-Baqarah: 217).
Ayat yang bergaung kencang ini tak tertangkap pesannya oleh kebanyakan telinga zaman. Bukan tubuh ummat yang lemah, tetapi jiwa mereka yang ringkih. Terserah, apakah perang ini akan disambut secara fisik atau dengan apalah, yang jelas ia telah berkecamuk jauh di dalam relung hati kita. Banyakyang ditawan, selain yang terluka dan mati.
Jiwa yang luka, tertawan dan mati, wujud dalam angka-angka hutang luar negeri yang fantastik, jutaan pemuda yang bergelimang madat, terpuruk di ranjang kematian oleh AIDS, rumah-tangga yang hancur oleh zina di seluruh atau sebagian besar elemennya. Perang apa yang dapat kita lakukan sementara barisan terbengkalai, bertikai-pangkai dan para komandan mabuk dunia?
Perang Istilah
Betapa kebencian telah memenuhi lidah mereka dan apa yang disembunyikan hati mereka jauh lebih besar (QS. Ali Imran: 118). Seorang pemerhati menghitung, bagaimana seorang psikolog rohaniawan di jawa Barat, selalu menyebut nama-nama Ahmad dan setaranya untuk contoh figur yang buruk dan menyebut nama Dadap dan Waru bagi yang positif, dalam ratusan tajuk di surat-kabar benalu yang berkarakter sama dengan tampilan elegan dan bermartabat. Masyarakat pengguna bahasa menerima begitu saja idiom-idiom tanpa menyadari dendam dan kebencian apa yang melatar-belakanginya atau kebodohan yang melandasinya.
Di zaman Rasulullah SAW, kaum Yahudi kerap memanggil beliau dengan Raina. Dalam bahasa Arab artinya 'Perhatikan kami', sementara mereka memaksudkannya 'engkau gila' dengan memendekkan Ra. Maka, Allah melarang kaum beriman mengatakan kalimat-kalimat bermakna ganda dengan tujuan negatif tersebut (QS. AI-Baqarah: 104). Karenanya, demi menjaga diri agar tidak menjadi keledai dungu sebaiknya publik tak lagi menggunakan idiom-idiom menyesatkan seperti -di antaranya- berikut ini.
Sunat. Ejekan dalam idiom baru, ketika menyebut perampokan gaji pegawai negeri atau bantuan sosial dengan sebutan sunat. Apa hubungan sunat atau khitan sebagai sebagian dari sifat-sifat fitrah (khishalul fithrah) dari bapak para nabi, Ibrahim AS, dengan perampokan atau korupsi yang begitu jahat dan telah menyengsarakan bangsa ini? Terlalu gegabah menganalogikan pemotongan gaji guru tanpa hak dengan pemotongan sedikit bagian tubuh, sebagai pelaksanaan syari'ah.
Angin surga. Entah atheis mana yang meluncurkan istilah ini, untuk ungkapan dusta, janji palsu dan sejenisnya. Mungkinkah disamakan dusta pejabat yang membuai rakyat dengan janji-janji kosong dengan angin surga yang memang haq. Angin yang menghembus daundaun surga, menimbulkan suara yang Iebih merdu dari musik mana pun. Membuat siapa pun yang menderita seumur hidupnya di dunia, akan mengatakan tak pernah merasakan derita, selain senang dan bahagia, hanya dengan satu hembusannya yang mengahpuskan segala Ielah dan melenyapkan semua takut.
Sah-sah saja. Mereka gunakan istilah ini bagi kesetaraan hak untuk bersikap atau mengungkapkan fikiran dan perasaan. Bagaimana mungkin klaim sah-sah saja dibiarkan bergulir untuk cinta sejenis, seks bebas, selingkuh dan berbagai jenis kefasikan. Beradablah wahai peminjam kata, karena sah itu istilah Islam untuk segala hal yang mencukupi syarat dan rukunnya. Dari sudut mana berkata fasik, bertindak maksiat dan melecehkan agama disebut sah-sah saja?
Paman Sam. Sebegitu banggakah dunia memanggil mereka paman? Yang selama setengah abad lebih melindungi Zionis merampasi tanah Palestina? Yang berpesta arak di jalanjalan seluruh negeri dengan kegembiraan luar biasa, saat Hasan Albanna dibunuh? Atau yang membesarkan seorang belia dinasti Saudi di California, kemudian sang anak pulang membunuh pamannya (Alm) Raja Faisal, di hari 12 Rabiul Awal hampir 30 tahun lalu? Fakta hari ini membuka peluang keponakan yang marah memelintir nama besar ini menjadi negeri Paman Racun (Samm; racun, Arab) yang diperintah presiden-presiden Bush.
Wanita Tuna Susila, Kupu-kupu Malam, Wanita Panggilan. Mengapa hanya perempuannya disebut pelacur dan tak ada sebutan pelacir bagi laki-laki yang menjerumuskan mereka? Sebegitu terhormatkah pelacur laki-laki dan perempuan sehingga dinaungi HAM dan diperhalus sebutan mereka? Sementara warga yang bertahan dari pembantaian, penghancuran rumah tinggal, kedai dan masjid mereka, disebut teroris?
Idola. Kita sangat mencintai Rasulullah SAW, tetapi tidak menjadikannya idola (idol), alias berhala atau sembahan. Kecuali bila itu khusus bermakna bayang-bayang di cermin. Dan itu ta'wil yang jauh. Terlebih-lebih mengidolakan selebriti.
Mubadzir Istilah
Demikianlah seharusnya penghematan dilakukan atas idiom-idiom salah urus, kebocoran dana atau penyimpangan. Katakan itu korupsi dan perampokan. Publik mungkin sulit mengembalikan waria ke asal istilahnya: banci. Atau menggantikan sebutan petawur, dengan pembunuh massal yang pengecut. Atau istilah bantuan luar negeri dengan hutang berbunga. Mereka telah jadi pemenang dalam perang opini. Hutan-hutan kita tak lagi cukup memasok kertas pelajaran, karena habis oleh koran dan majalah bugil. Karenanya jangan ditambah lagi dengan istilah-istilah mubadzir.
| Komentar () >> |
 |
|