OOPS. Your Flash player is missing or outdated.Click here to update your player so you can see this content.
Ayah Ibu Kompak, Anak Akrab.
Al
Ghozali ra dalam
kitab ihya ulumuddin 3/62 berkata
:...Ketahuilah, sesungguhnya
metode pendidikan anak merupakan suatu yang paling penting dan wajib. Anak
adalah amanah orangtuanya. Hatinya suci merupakan permata yang paling berharga.
Bila dibiasakan dan diajarkan kebaikan, maka ia akan tumbuh diatasnya, dan
berbahagia didunia dan akhirat. Sebaliknya, bila dibiasakan dengan kejelekan
dan dibiarkan seperti binatang maka ia akan sengsara dan binasa.
Disini Al Ghozali, melihat pentingnya dan
wajibnya orang tua tahu akan metode pendidikan anak, bukan hanya sekedar
sebagai orang tua biologis bagi anak, tetapi bagaimana orang tua mempunyai
peranan yang lebih besar baik secara spiritual, psikis, peran dan pembentukan
karakter anak .
Ayah Ibu Kompak, Anak Akrab.
Al
Ghozali ra dalam
kitab ihya ulumuddin 3/62 berkata
:...Ketahuilah, sesungguhnya
metode pendidikan anak merupakan suatu yang paling penting dan wajib. Anak
adalah amanah orangtuanya. Hatinya suci merupakan permata yang paling berharga.
Bila dibiasakan dan diajarkan kebaikan, maka ia akan tumbuh diatasnya, dan
berbahagia didunia dan akhirat. Sebaliknya, bila dibiasakan dengan kejelekan
dan dibiarkan seperti binatang maka ia akan sengsara dan binasa.
Disini Al Ghozali, melihat pentingnya dan
wajibnya orang tua tahu akan metode pendidikan anak, bukan hanya sekedar
sebagai orang tua biologis bagi anak, tetapi bagaimana orang tua mempunyai
peranan yang lebih besar baik secara spiritual, psikis, peran dan pembentukan
karakter anak .
Orang tua, ayah dan ibu, mempunyai keinginan
anak yang sholeh. Bahkan prosesnya pun dimulai sebelum mereka menikah. Mereka
akan memilih pasangan yang sholeh dan sholehah agar dapat melahirkan dan
mendidik generasi yang baik, kemudian pada saat suami istri akan melaksanakan
kewajibannya mereka pun berdoa agar mendapat anak yang sholeh; (Bismillah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari
gangguan syaithon dan jauhkan syaithon dari apa yang Engkau anugrahkan kepada
kami). Bahkan dalam satu hadits dikatan bahwa nabi berkata : “Saya berharap semoga Allah mengeluarkan
dari tulang sulbi mereka keturunan yang hanya menyembah Allah dan tidak
menyekutukannya kepada suatu apapun”.
Dari sini sebenarnya kekompakan orangtua,
ayah ibu sudah dimulai. Kemudian bagaimana kekompakan diaplikasikan dalam
pendidikan anak-anak. Kekompakan tidak akan terjalin apabila tidak ada
komunikasi diantara ayah dan ibu, ayah inginnya A ibu inginnya B, sehingga anak
tidaktahu mana yang akan dia ikuti,
ayah atau ibu.
Komunikasi antara ayah dan ibu juga bukan
hanya sekedar komunikasi yang lantas membagi wilayah antara mereka, ayah hanya
mengkomunikasikan pekerjaan dan menyerahkan gajinya lalu ibu mengkomunikasikan
pembelanjaannya dari gaji yang diterima dari ayah, tetapi hendaknya komunikasi
yang terjalin adalah komunikasi yang holistik/menyeluruh tentang fungsi dan
peranan serta tujuan dalam rumah tangga.
Kita sering mendengar tujuan dari ber-rumah
tangga adalah membentuk keluarga yang sakinah mawaddah warahmah, itu adalah
outputnya, inputnya sebagaimana diatas tadi, di mulai dari memilih pasangan,
artinya setelah itu ada proses yang harus dilakukan oleh ayah ibu untuk
mencapai tujuan tersebut. Yang tidak boleh berhenti hanya pada tataran hasil
diatas kertas, tapi bagaimana hasilnya dapat dirasakan oleh semua yang ada
didalam rumah bahkan diluar rumah.
Kekompakan ayah dan ibu dalam berkomunikasi
dalam hal fungsi dan peranan sejak awal ditetapkan bahwa ayah adalah pemimpin,
dan ibu pendamping. Ayah adalah qowwam dalam rumah tangga, tapi peranan ibu
tidak kalah pentingnya. Bahkan Ibu digambarkan sebagai madroshatin aulad.
Dalam hal apa saja ayah ibu harus kompak?
1.Fungsi, peranan dan kedudukan ayah
ibu dalam rumah tangga.
2.Pola pendidikan yang akan diterapkan
kepada anak
3.Tujuan dalam rumah tangga.
Bicara tentang poin 1 dan 3 bukan hanya
untuk dikupas habis tapi sejauh mana ini menjadi bahan renungan kita sebagai
orangtua, ayah ibu. Fungsi dan peranan ayah ibu dalam rumah tangga hendaknya
tidak tergantikan atau diagntikan oleh siapapun, atau bertukar peran secara
permanen ayah ibu, tetapi sudah harus jelas sejak awal fungsi dan peranan ayah
ibu dalam rumah tangga yang mempunyai tujuan, bagaimana jika rumah tangga tidak
punya tujuan?
bagaimana tentang pola pendidikan anak?
Sebelumnya kita sebagai orang tua, ayah ibu,
harus mengetahui model seperti apa kita ini dalam mendidik anak? Ibu Ratna Megawangi
(pakar homeschooling), mengatakan ada tiga modelorangtua, yaitu orangtua yang demokratis,
orangtua yang otoriter dan orangtua yang serba boleh. Ketiga model ini akan
sangat berdampak pada pola pendidikan anak pembentukan karakter anak.
Biasanya model orangtua yang bagaimana akan
sangat mudah dirasakan oleh anak dan kita pun akan dapat melihat kepribadian
anak tersebut. Jika model orangtua yang serba boleh maka anak akan terus
menerus bergantung pada orangtuanya karena apa saja yang di-inginkan oleh anak,
ayah ibu pasti akan memberikannya tanpa pertimbangan, tanpa menanyakan maksudnya,
sehingga bahkan dalam perkembangannya cenderung anak akan mengakali ayah ibunya
untuk memuaskan keinginannya.
Model otoriter, anak akan melakukan apapun
berdasarkan “kata” ayah atau “kata” ibu, anak tidak diberikan kesempatan untuk
menyatakan keinginan dan pendapatnya, semua serba apa yang sudah menjadi
keputusan dan kemauan ayah ibu. Anak dari model orang tua seperi ini akan
sangat sulit mengembangkan dirinya, yang ada dia akan berontak dan atau menjadi
anak yang kurang percaya diri.
Model Demokratis, anak akan melakukan apa
yang sudah menjadi keputusan bersama mereka, yaitu ayah ibu dan anak, anak
dengan model orangtua seperti ini biasanya menjadi anak-anak yang mudah bergaul
dengan orang lain, anak yang berani mengeluarkan pendapat dan bertanggung jawab
serta secara sosial dia telah mendapatkan sosial skill dalam pembelajaran karakter yang didapat dari ayah ibu, yang
dumulai dari rumah.
Ayah ibu kompak, anak akrab. Kekompakan
orangtua akan sangat dirasakan kehangatannya oleh anak, anak akan akrab dengan
ayah ibu. Anak tidak akan malu bertanya segala hal yang ingin dia ketahui
karena ayah ibu memberi peluang dan kesempatan serta didengar. Keakraban yang
terjalin antara anak dengan ayah ibu merupakan harga yang tidak ternilai, akan
menimbulkan sensasi luar biasa dalam menghargai dan menempatkan posisi anak
dalam porsi yang sesuai,ke-akraban bukan berarti anak akan “ngelunjak” terhadap
orang tua, tapi ke-akraban adalah penghormatan anak terhadap orang tua dan
sebaliknya.
Hal-hal kecil dalam persoalan pendidikan
anak terkadang juga bisa menimbulkan konflik antara ayah dengan ibu atau ayah
ibu dengan anak. Anak dalam usai perkembangannya yang semakin menuju masa
dewasa muda, terkadang mempunyai keinginan atau kecenderungan yang berbeda
dengan orang tua. Kita sebagai orangtua hendaknya merasa berbangga jika anak
sudah punya pilihan-pilihan, tinggal bagaimana kita mengarahkan pilihan-pilihan
anak tersebut sebagai bagian dari dukungan kita untuk menyiapkan anak
menghadapi atau bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihannya dan masa
depannya.
Anak yang akrab dengan ayah ibu, dia juga
akan hangat dengan kawan dan lingkungannya. Anak akan mudah diterima
lingkungannya atau anak juga akan cepat beradaptasi dengan lingkungannya. Kita
akan melihat apabila ayah ibu tidak kompak, anak juga akan bingung bahkan
cenderung introvert karena tidak ada dukungan dari ayah ibu, sehingga dia tidak
berani untuk bersosialisasi dan bergaul dengan teman atau lingkungannya, rasa
takut atau malu akan memberatkan langkahnya untuk bersosialisasi bahkan juga
akan berpengaruh dalam pendidikannya.
Cukup menarik apa yang menjadi moto dari
ayah Edy, “Indonesia Strong From Home”, bahwa Indonesia yang kuat berasal dari
rumah. Artinya peranan ayah ibu dalam rumah akan berpengaruh atau berdampak
luar biasa untuk anak yang juga pada akhirnya untuk negara. Baik secara
spiritual, emosional dan karakter anak menuju Indonesia gemilang.
Tidak ada kata terlambat untuk ayah ibu
untuk kompak agar anak menjadi akrab!.
tulisan yang menarik. Karena yang sering terjadi adalah ayah dan bunda yang berbeda cara, berbeda cita-cita, bahkan "sepakat" untuk "tidak sepakat". Bisakah kami mendapatkan kiat-kiat (praktis) agar ayah ibu kompak? terima kasih pak sebelumnya...jazakallah...
... Ditulis oleh dewi ekawati, January 14, 2010
Berjuta harap agar bisa lebih baik menjaga anak anak yang akan menjadi penolong di hari akhir nanti...jazakallah atas tausiyahnya
... Ditulis oleh dihar_bukhari, January 25, 2010
kadang anak bisa bisa curhat sama teman. kenapa....ya karena temannya. so..mengapa kita tidak menjadi teman akrab anak kita. Agar anak bisa curhat tanpa ada sekat. Thank pak syam udah ngingetin...